Mengapa Harus 4 Madzhab? Ini Penjelasannya!

Jalan Lurus - "Produk-produk hukum yang berkembang dalam disiplin ilmu fiqih yang digali dari berbagai dalil-dalil syari’at menghasilkan banyak perbedaan pendapat antara satu imam mujtahid dengan lainnya". Ibn Khaldun dalam kitab Muqaddimah.

Mengapa Harus 4 Madzhab? Ini Penjelasannya!

Perbedaan pendapat di antara mereka tentu dilatarbelakangi oleh berbagai alasan, baik karena pemahaman yang berbeda terhadap teks-teks yang tidak sharîh, maupun karena adanya perbedaan konteks.

Perbedaan pendapat dalam produk hukum ini memanglah sesuatu yang tidak dapat dihindari. Meski demikian, setiap produk hukum yang berbeda-beda ini semuanya bisa dijadikan sandaran dan rujukan bagi siapa saja yang tidak mencapai derajat mujtahid selama dihasilkan oleh seorang ahli ijtihad (Mujtahid Muthlak). Dengan begitu, masalah-masalah hukum dalam agama ini menjadi sangat luas. Jadi, Bagi orang-orang yang tidak mencapai derajat mujtahid, mendapat keleluasaan untuk mengikuti siapapun dari para ulama mujtahid tersebut.

Dari sekian banyaknya imam mujtahid, yang secara formulatif hasil-hasil ijtihadnya telah dibukukan dan madzhab-madzhabnya masih dianggap eksis sampai saat ini hanya ijtihad Imam madzhab yang empat saja, yaitu; Imam Abu Hanifah an-Nu’man ibn Tsabit al-Kufy (w 150 H) sebagai perintis madzhab Hanafi, Imam Malik ibn Anas (w 179 H) sebagai perintis madzhab Maliki, Imam Muhammad ibn Idris asy-Syafi’i (w 204 H) sebagai perintis madzhab Syafi’i, dan Imam Ahmad ibn Hanbal (w 241 H) sebagai perintis madzhab Hanbali.

Keempat Imam mujtahid tersebut pastilah memiliki kapasitas ilmu yang mumpuni sehingga mereka punya otoritas untuk mengambil intisari-intisari hukum yang tidak terdapat penyebutannya secara jelas, baik di dalam teks al-Qur’an maupun teks hadits.

Tidak hanya dalam bidang fiqih (Furû’iyyah), dalam bidang aqidah (Ushûliyyah), keempat Imam mujtahid ini juga merupakan Imam-Imam teolog terkemuka (al-Mutakllimûn) yang menjadi refernsi utama dalam berbagai persoalan teologi.

Begitu juga dalam masalah hadits dengan segala aspeknya, mereka merupakan tumpuan dalam segala rincinan dan berbagai seluk-beluknya (al-Muhadditsûn). Lalu dalam masalah tasawwuf yang titik fokusnya dalam ranah pendidikan dan pensucian ruhani (Ishlâh al-A’mâl al-Qalbiyyah, atau Tazkiyah an-Nafs), keempatnya juga orang-orang terkemuka di dalamnya (ash-Shûfiyyah). Kompetensi mereka berempat dalam berbagai disiplin ilmu agama benar-benar telas ditulis dengan tinta emas dalam berbagai karya tentang biografi mereka.

Pada era Imam madzhab yang empat, kebutuhan akan penjelasan masalah-masalah fiqih sangat penting dibanding dengan yang lainnya. Karena itulah pada saat itu, keilmuan yang menjadi fokus perhatian adalah disiplin ilmu fiqih.

Namun, bukan berarti Ilmu Tauhid tidak penting, hal itu tetap menjadi kajian pokok di dalam mengajarkan ilmu-ilmu syari’at. cuma, saat itu pemikiran-pemikiran ahli bid’ah dalam bidang aqidah belum terlalu banyak menyebar.

Memang, saat itu sudah mulai muncul kelompok-kelompok ahli bid’ah, namun penyebarannya masih sangat terbatas. Ole karena itu, kebutuhan terhadap kajian tentang faham-faham ahli bid’ah dan pemberantasannya belum sampai kepada keharusan melakukan kodifikasi secara rinci terhadap segala permasalahan aqidah Ahlussunnah.

Walapun begitu, ada beberapa karya teologi Ahlussunnah yang telah ditulis oleh Imam madzhab yang empat, seperti Imam Abu Hanifah yang telah menulis lima risalah teologi; al-Fiqh al-Akbar, ar-Risâlah, al-Fiqh al-Absath, al-‘Alim Wa al-Muta’allim, dan al-Washiyyah, juga Imam asy-Syafi’i yang telah menulis beberapa karya teologi. Benar, perkembangan kodifikasi terhadap Ilmu Kalam saat itu belum sesemarak pasca para Imam madzhab yang empat itu sendiri.

Allah Dan Rasul-Nya Menjamin Kebenaran Ijtihad Para Imam Madzhab


Diantara mukjizat Rasulullah adalah beberapa perkara atau peristiwa yang beliau ungkapkan dalam hadits-haditsnya, baik peristiwa yang telah terjadi, yang sedang terjadi, maupun yang nanti akan terjadi. Selain itu, seluruh ucapan Rasulullah adalah wahyu dari Allah, artinya kalimat yang keluar dari mulut beliau bukan semata-mata muncul dari hawa nafsu. Dalam pada ini Allah berfirman:

وَمَا يَنطِقُ عَنِ الْهَوَى  إِنْ هُوَ إِلاَّوَحْيٌ يُوحَى (النجم: 3-4)  
“Dan tidaklah dia (Muhammad) berkata-kata dari hawa nafsunya, sesungguhnya tidak lain kata-katanya tersebut adalah wahyu yang diwahyukan kepadanya” (QS. An-Najm: 3-4)

Di antara pemberitaan Rasulullah yang merupakan salah satu mukjizat adalah satu hadits yang beliau sabdakan bahwa suatu hari akan datang seorang alim besar yang ilmu-ilmunya akan menyebar diberbagai penjuru dunia dari keturunan Quraisy, beliau bersabda:

لاَ  تَسُبُّوْا  قُرَيْشًا  فَإنّ  عَالِمَهَا  يَمْلَأُ  طِبَاقَ  الأرْضِ  عِلْمًا  (رواه أحمد)
“Janganlah kalian mencaci Quraisy karena sesungguhnya (akan datang) seorang alim dari keturunan Quraisy yang ilmunya akan memenuhi seluruh pelosok bumi” (HR. Ahmad).

Para ulama kemudian mencari siapa sebenarnya yang dimaksud oleh Rasulullah dalam hadits tersebut. Para ulama yang ilmunya dan para muridnya serta para pengikutnya banyak tersebar paling tidak ada empat orang, yaitu Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam asy-Syafi’i, dan Imam Ahmad ibn Hanbal.

Dari keempat Imam ini, para ulama menyimpulkan bahwa yang dimaksud dalam hadits di atas adalah Imam asy-Syafi’i, soalnya cuma beliau saja yang berketurunan Quraisy. Kesimpulan ini juga dikuatkan dengan kenyataan bahwa madzhab asy-Syafi’i telah tersebar di berbagai belahan dunia Islam hingga saat ini.

Dalam hadits lain, Rasulullah bersabda:

يُوْشِكُ أنْ يَضْرِبَ النّاسُ ءَابَاطَ الإبِلِ فَلاَ يَجِدُوْنَ عَالِمًا أعْلَمُ مِنْ عَالِمِ الْمَدِيْنَة (رواه أحمد) 
“Hampir-hampir seluruh orang akan memukul punuk-punuk unta (artinya mengadakan perjalan mencari seorang yang alim untuk belajar kepadanya), dan ternyata mereka tidak mendapati seorangpun yang alim yang lebih alim dari orang alim yang berada di Madinah”. (HR. Ahmad). 

Para ulama menyimpulkan bahwa yang maksud dalam hadits ini tidak lain adalah Imam Malik ibn Anas, perintis Madzhab Maliki; yang merupakan salah satu guru Imam asy-Syafi’i. Karena hanya Imam Malik dari Imam madzhab yang empat yang menetap di Madinah, yang juga digelari dengan Imâm Dâr al-Hijrah (Imam Kota Madinah). Kapasitas keilmuan beliau tentu tidak dapat diragukan lagi, terbukti dengan eksistensi ajaran madzhab beliau hingga sekarang.

Mengapa Harus 4 Madzhab? Ini Penjelasannya!

Demikian pula terdapat dalil yang menurut sebagian ulama menunjukan bahwa Imam Abu Hanifah adalah sosok yang dimaksud dalam hadits Rasululllah, beliau bersabda:

 لَوْ كَانَ الْعِلْمُ مُعَلَّقًا بِالثّريَّا لَنَالَهُ رِجَالٌ مِنْ أبْنَاءِ فَارِسٍ (رَوَاهُ أحْمَدُ)
“Seandainya ilmu itu tergantung di atas bintang-bintang Tsurayya maka benar-benar ia akan diraih oleh orang-orang dari keturunan Persia” (HR. Ahmad).

Sebagian Ulama mengatakan bahwa Imam Abu Hanifah yang dimaksud dalam hadits tersebut, sebab di antara Imam mujtahid yang empat hanya beliau yang berasal dari daratan Persia.

Imam Abu Hanifah telah belajar langsung kepada tujuh orang sahabat Rasulullah, yaitu Abu ath-Thufail Amir ibn Watsilah al-Kinani, Anas ibn Malik al-Anshari, Harmas ibn Ziyad al-Bahili, Mahmud ibn Rabi’ al-Anshari, Mahmud ibn Labid al-Asyhali, Abdullah ibn Busyr al-Mazini, dan Abdullah ibn Abi al-Awfa al-Aslami. Beliau juga telah belajar kepada 93 ulama terkemuka dari kalangan tabi’in.

Catatan Penting:


Ada sebagian yang mengatakan bahwa mereka tidak membutuhkan asumsi para ulama terdahulu dengan dalih bahwa mereka sendiri juga dapat memahami teks-teks syari’at. Bahkan terkadang ungkapan mereka diselingi dengan “caci maki” terhadap para imam madzhab empat, atau terhadap para ulama terkemuka lainnya. Biasanya mereka membuat propaganda dengan slogan-slogan, seperti: “Kami gak perlu madzhab”, atau: “Cukuplah al-Qur’an dan Sunnah saja sbagai Madzhab kami”, atau kadang mereka berkata: “Nahnu Rijâl Wa Hum Rijâl (Kita manusia dan mereka (para ulama) juga manusia”, atau: “Hanya al-Qur’an dan Sunnah Sumber ajaran kami, dan kami tidak perlu menuqil karya-karya para ulama (kitab kuning)”. Bahkan yang lebih parah, mereka mengatakan bahwa taqlid kepada para Imam madzhab adalah pekerjaan syirik. Na’udzu Billah.

Pernyataan orang-orang seperti ini justru menegaskan bahwa mereka tidak faham terhadap kandungan al-Qur’an dan Sunnah. Segala praktek ibadah dan keyakinan orang-orang semacam ini layak dipertanyakan. Mereka memahami teks-teks syari’at Dari mana? Siapa yang telah membawa teks-teks syari’at tersebut hingga turun kepada mereka? Atau kita awali dengan pertanyaan sederhana ini; “Apakah mereka ngerti bahasa Arab?”, “Apakah mereka hafal dan faham ayat-ayat dan hadits ahkam dengan berbagai aspek di dalamnya; contoh: ‘am khash, mutlaq muqayyad, nasikh mansukh, sabab an-nuzul dan lainnya?”, “Tahukan mereka apa pengertian istirkha’ dan istibra’? “Tahukan mereka perbedaan antara al-ku’ dan al-bu’? Apakah mereka merasa lebih paham terhadap ajaran agama ini dibanding para ulama? Hal ini sungguh pantas dikhawatirkan, jangan-jangan mereka yang anti madzhab tidak mengetahui berapa rukun wudhu'. -_-

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Mengapa Harus 4 Madzhab? Ini Penjelasannya!"

Post a Comment

Contact Form

Name

Email *

Message *