Cara yang Benar Dalam Memperoleh Ilmu Agama Islam

Urgensi Sanad 


Jalan-lurus.com - Sanad merupakan mata rantai para pembawa sebuah disiplin ilmu. Mata rantai ini terus tersambung hingga kepada orang yang pertama kali membawa ilmu-ilmu tersebut, yaitu Rasulullah. Konsistensi sanad dengan ilmu-ilmu Islam tidaklah dapat terpisahkan. Sanad dengan ilmu-ilmu keislaman bagaikan sebuah paket yang merupakan satu kesatuan.

Ilustrasi

Dalam Islam, Seluruh disiplin ilmu dapat dipastikan memiliki sanad. Dan Sanad inilah yang menjamin kemurnian ajaran-ajaran dan ilmu-ilmu Islam sesuai dengan yang dimaksud oleh Allah dan Rasul-Nya. Di antara penyebab kebalnya ajaran-ajaran yang dibawa Rasulullah dari berbagai usaha luar yang hendak merusaknya adalah karena eksistensi sanad.

Hal inilah yang membedakan ajaran-ajaran atau syari'at Nabi Muhammad dengan Nabi-nabi sebelumnya. Munculnya bermacam perubahan pada ajaran-ajaran mereka,  bahkan terjadinya pertentangan ajaran antara satu era dengan era lainnya setelah ditinggalkan oleh nabi-nabi yang bersangkutan, adalah karena mereka tidak mempunyai sanad dalam mempelajari ilmu agama.

Oleh sebab itulah para ulama menyepakati bahwa sanad merupakan salah satu keistimewaaan yang berikan oleh Allah kepada umat nabi Muhammad, sedangkan umat-umat nabi sebelumnya tidaklah mendapatkan karunia yang sedemikian rupa. Dan dengan adanya sanad ini jualah, kemurnian ajaran-ajaran Rasulullah akan terus berlangsung sampai hari kiamat[1].

Perihal urgennya sebuah sanad, Imam Ibn Sirin, seorang ulama terkemuka dari kalangan tabi’in, berkata:

إنّ هَذَا اْلعِلْمَ دِيْنٌ فَانْظُرُوا عَمّنْ تَأخُذُوْنُ دِيْنَكُمْ (رَوَاهُ مُسْلِمٌ فِي مُقَدِّمَةِ الصّحِيْح)

“Sesungguhnya ilmu (agama) ini adalah agama, maka lihatkan oleh kalian dari manakah kalian mengambil agama kalian”.  (Diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam mukadimah kitab Shahîh-nya).

Imam ‘Abdullah ibn al-Mubarak juga berkata:

الإسْنَادُ مِنَ الدّيْنِ لَوْ لاَ الإسْنَادُ لَقَالَ مَنْ شَاءَ مَا شَاءَ

“Sanad adalah bagian dari agama, jika bukan karena sanad maka setiap orang benar-benar akan berkata (tentang urusan agama) terhadap apapun yang ia inginkan”[2].

Sanad tidak hanya penting dalam disiplin hadits, atau ilmu-ilmu hadits saja, namun juga berlaku bagi seluruh ilmu-ilmu agama. Coba kita tela'ah perkataan Ibn Sirin di atas, beliau tidak mengkhususkan dalam masalah hadits saja, namun beliau mengatakan “al-‘Ilm” artinya mencakup seluruh ilmu-ilmu agama. Pemahaman yang seperti ini juga tersirat dalam perkataan Imam Abdullah ibn al-Mubarak.

Tradisi Mencari Sanad


Sanad terbagi dua, yaitu:
  • Sanad Aly, dan 
  • Sanad Nazil. 

Sanad Aly adalah sanad yang jumlah orang yang terlibat dalam mata rantainya lebih sedikit dan mereka semua adalah orang-orang yang terpercaya (tsiqah). Sedangkan Sanad Nazil ialah sanad yang jumlah orang yang terlibat dalam mata rantainya lebih banyak.

Sanad Aly memiliki potensi lebih kecil dari kemungkinan adanya kesalahan dalam mata rantai itu sendiri atau dalam informasi yang dibawa oleh mata rantai tersebut.
Sedangkan Sanad Nazil berpotensi mengandung kesalahan lebih besar.

Karena itulah para ulama saleh terdahulu berusaha sekuat tenaga untuk mencari Sanad Aly. Misal; Sahabat dan murid-murid Abdullah ibn Umar yang sedang tinggal di Kufah, rela menempuh perjalanan yang sangat jauh dan menyulitkan cuma untuk mendengar dan belajar langsung kepada Umar ibn al-Khattab di Madinah. Padahal materi-materi yang mereka dengar di sana sudah pernah disampaikan oleh Abdullah ibn Umar. Tradisi mulia ini telah dikisahkan oleh Imam Ahmad ibn Hanbal, beliau berkata:

طَلَبُ الإسْنَاد العَالِي سُنّة عَمّن سَلفَ، لأنّ أصْحَابَ عبْدِ الله كانُوا يَرحَلوْنَ مِنَ الكُوفَة إلَى المَدينَةِ فَيَتَعَلّمُوْنَ مِنْ عُمَرَ وَيَسْمَعُوْنَ مِنه

“Mencari sanad aly adalah adalah tradisi dari para ulama salaf, karena para sahabat Abdullah ibn Umar mengadakan perjalanan dari Kufah ke Madinah hanya untuk belajar dan mendengar dari Umar”[3].

Imam Hambali juga meriwayatkan bahwa: Imam Yahya ibn Ma’in; salah seorang Imam hadits terkemuka, di tengah sakit hingga menjelang wafatnya sempat ditawarkan sesuatu kepadanya, apakah yang dia inginkan saat itu? Beliau menjawab:

بَيْتٌ خَالِي وَسَنَدٌ عَالِي
“Aku ingin rumah sepi dan sanad aly”[4].

At-Talaqqi Bi al Musyafahah


Ulama Salaf dan Khalaf sepakat jika ilmu agama tidak diperoleh hanya dengan membaca beberapa literatur agama, namun dengan belajar langsung (talaqqi) atau tatap muka langsung dengan orang alim yang terpercaya (tsiqah) yang dia juga pernah berguru kepada seorang alim terpercaya, dan demikian seterusnya hingga bermuara kepada Sahabat Nabi. Al-Hafizh Abu Bakr al-Khatib al-Baghdadi telah berkata:

لا يُؤْخَذُ الْعِلْمُ إلاّ مِنْ أفْوَاهِ الْعُلَمَاء
 “Ilmu agama tidak dapat diambil kecuali dari lisan Ulama”.

Beberapa ulama Salaf juga mengatakan:

الّذِى يَأخُذُ الْحَديْثَ منَ الكُتب يُسَمّى صَحَفيّا وَالّذى يأخُذُ القرآنَ مِنَ الْمُصْحَفِ يُسَمّى مُصْحَفِيًّا وَلاَ يُسَمَّى قَارِئًا

“Orang yang mempelajari hadits dari kitab (tanpa guru) dinamakan shahafi (bukan Muhaddits), sedangkan orang yang mempelajari al-Qur'an dari mushaf (tanpa guru) dinamakan mushafi, tidak disebut qari’ ”.

Hal ini sesungguhnya difahami dari sabda Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam:

 مَنْ يُرِدِ اللهُ بهِ خيرًا يُفَقّهْهُ فِى الدّيْن إنّمَا العلْمُ بالتّعَلّمِ وَالفقْهُ بالتّفقُّه (رواه الطبراني) 

“Barang siapa yang dikehendaki oleh  Allah baginya suatu kebaikan, maka Allah mudahkan baginya seorang guru yang mengajarinya Ilmu-Ilmu Agama, Sesungguhnya ilmu agama (diperoleh) dengan cara belajar kepada seorang alim, begitu pula fiqih". (HR. ath-Thabarani) 

Metode At-Tahammul Dalam Meraih Ilmu


Metode at-Tahammul dalam meraih ilmu terbagi delapan. Metode ini tidak hanya berlaku khusus dalam bidang hadits saja, namun juga berlaku bagi berbagai disiplin ilmu agama, Diantaranya fiqh, tafsir, tasawwuf, dan lain-lain.

Penyebab metode at-Tahammul sering dikaji dalam bidang hadits adalah karena titik konsentrasi hadits itu berupa kajian terhadap sanad dan matan. Dalam bidang matan al-Hadits dituntut tidak terdapat perbedaan atau perubahan redaksi dari satu perawi kepada perawi yang lain yang ada setelahnya. Sedangkan dari segi sanad dituntut adanya mata rantai yang bersambung, serta semua perawinya adalah orang-orang yang terpercaya (tsiqah), orang-orang yang adil, dan orang-orang yang dlabith.

Delapan metode at-Tahammul tersebut adalah dengan gradasi sebagai berikut:
  • Mendengar lafazh (pelajaran) dari syekh/guru (Sama’ Lafzh asy-Syaikh),
  • Membaca di hadapan syekh (al-Qira’ah ‘Ala asy-Syaikh),
  • Al-Ijazah,
  • Al-Munawalah,
  • Al-Kitabah,
  • Al-I’lam,
  • Al-Washiyyah, dan
  • Al-Wijadah.

Dengan demikian tingkatan (gradasi) yang tertinggi dalam metode ini adalah Sama’ Lafzh asy-Syaikh[5].

Akibat Tidak Mempunyai Guru: Kisah Nyata


Salah seorang Imam ahli Tafsir, Imam Abu Hayyan al-Andalusi, penulis Tafsir al-Bahr al-Muhith, menuliskan bait-bait syair sebagai berikut:

 يَظُنُّ الغُمْرُ أنّ الكُتْبَ تَهْدِيْ     #          أخَا جَهْلٍ لإدْرَاكِ العُلُوْمِ

ومَا يَدْرِي الْجَهُوْلُ بأنّ فيْهَا      #      غَوَامِضَ حَيَّرَتْ عَقْلَ الْفَهِيْمِ

إذَا رُمْتَ الْعُلُوْمَ بِغَيْرِ شَيْخٍ      #     ضَلَلْتَ عَنِ الصّرَاطِ الْمُسْتَقِيْمِ

وَتَشْتَبِهُ الأمُوْرُ عَليكَ حَتّى      #      تَصِيْرَ أضَلّ مِنْ تُوْمَا الْحَكِيْمِ

Orang lalai mengira bahwa kitab-kitab dapat memberikan petunjuk kepada orang bodoh untuk meraih ilmu…”

Padahal orang bodoh tidak tahu bahwa dalam kitab-kitab tersebut ada banyak pemahaman-pemahaman sulit yang telah membingungkan orang yang pintar”.

Jika engkau menginginkan (meraih) ilmu dengan tanpa guru maka engkau akan sesat dari jalam yang lurus”.

Segala perkara akan menjadi rancu atas dirimu, hingga engkau bisa jadi lebih sesat dari orang yang bernama Tuma al-Hakim”
[6].

Tuma al-Hakim adalah seorang dokter yang hanya mengandalkan buku saja dalam praktik pengobatannya. Kala itu dia mendapatkan sebuah teks hadits yang bertuliskan; “al-Habbah as-Sawda’ Syifa’ Likulli Da”. Tetapi Tuma al-Hakim mendapati huruf ba’ dengan dua titik pada kata al-habbah, dan menganggap ba itu adalah ya’, ia pun membacanya dengan al-Hayyah as-Sawda’.

Karena kemungkinan salah cetak atau sebab-sebab lain, tentulah makna dari teks hadis tersebut berubah drastis, makna yang betul adalah “Habbah Sawda’ (jintan hitam) adalah obat dari segala penyakit”, berubah menjadi “Ular hitam adalah obat bagi segala penyakit”. Karena kebodohannya tersebut, Tuma al-Hakim telah membunuh banyak orang, mereka mati akibat terkena bisa ular ganas yang ia anggap sebagai obat.

Seandainya saja Tuma al-Hakim ini mempunyai guru yang tsiqah, maka kesalahan seperti itu tidak pernah terjadi. Sebab guru tersebut pasti akan membenarkan kesalahannya yang menganggap huruf ba' adalah huruf ya'.

Sekarang ini telah tersebar isu-isu pada sebagian masyarakat bahwasanya ilmu-ilmu dalam Islam dapat dipelajari sendiri tanpa harus mempunyai sanad. Mereka ini hanya terpaku pada selebaran, buletin, jurnal, browsing internet, dan berbagai media elektronik lainnya dalam praktik belajar ilmu-ilmu agama.

Memang tidak dapat dipungkiri jika banyak terdapat nilai-nilai positif dari media teknologi yang dapat dinikmati di manapun dan kapanpun. Namun tidak seharusnya kita menutup mata dari sisi-sisi negatifnya.

Seyogyanya, kita tetap memposisikan media teknologi informasi murni sebagai pembawa Informasi yang sangat butuh kepada klarifikasi (tabayyun), bukan malah menjadikannya guru utama, atau menjadikannya sebagai rujukan apapun dalam segala pengetahuan, termasuk ilmu-ilmu agama.

Kita semua yakin dan percaya bahwa internet dengan seluruh konten yang terdapat di dalamnya mengandung sisi positif dan juga negatif. Sesungguhnya, seorang yang mempunyai sanad maka berarti ia bisa mempertanggungjawabkan akan kebenaran cara beragama yang dia praktikkan.

Sikap apriori dari sebagian kelompok masyarakat yang anti terhadap naskah-naskah klasik (Kitab Kuning) tidak lain adalah karena dilandasi kepada hawa nafsu belaka dan karena mereka sendiri tidak memiliki sanad dalam keilmuan dan dalam cara mereka beragama.

Akhir kata, marilah kita belajar ilmu agama dengan cara yang benar, praktikkan metode-metode yang digunakan oleh Rasulullah, Sahabat, tabi'in, tabi' tabi'in, serta ulama yang menggunakan tiga cara di atas dalam meraih ilmu agama, yaitu sanad, talaqqi, dan metode at-tahammul, agar kita terhindar dari kesalahan-kesalahan dalam memahami ilmu agama.



 __*** Catatan Kaki*** __[1] Penjelasan ini diungkapkan dalam hampir seluruh kitab-kitab Musthalah al-Hadits, lihat di antaranya: an-Nawawi (w 676 H) dalam at-Taqrib, j. 2, h. 94, as-Suyuthi dalam Tadrib ar-Rawi, j. 2, h. 93, Ibn ash-Shalah dalam al-Muqaddimah, h. 239, al-‘Iraqi dalam at-Taqyid wa al-Idlah, h. 239, al-‘Iraqi dalam Fath al-Mughits Syarh Alfiyah al-Hadits, h. 308

[2] Ibn ash-Shalah, al-Muqaddimah, h. 239

[3] as-Suyuthi, Tadrib ar Rawi, j. 2, h. 95

[4] Ibn ash-Shalah, al-Muqaddimah, h. 239

[5] Untuk mengenal definisi masing-masing istilah ini silahkan merujuk kepada kitab-kitab Musthalah, seperti an-Nawawi dengan at-Taqrib, as-Suyuthi dengan Tadrib ar-Rawi, Ibn ash-Shalah dengan al-Muqaddimah, al-‘Iraqi dengan at-Taqyid wa al-Idlah, dan Fath al-Mughits Syarh Alfiyah al-Hadits, Ibn Hajar al-‘Asqalani dengan Nukhbah al-Fikar, serta lainnya.

[6] Hasyiyah Ibn Hamdun, Syarh Bahriq Ala Lmiyah al-Af’al, h. 44

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Cara yang Benar Dalam Memperoleh Ilmu Agama Islam"

Post a Comment

Contact Form

Name

Email *

Message *