Tidak Setiap Orang Boleh Berijtihad, Ini Alasannya !

Jalan-Lurus.com - Ijtihad adalah mengeluarkan hukum-hukum yang tidak terdapat di dalam nash/teks yang jelas. Teks yang jelas adalah yang tidak mengandung kecuali satu makna saja. Maka Mujtahid (orang yang berijtihad) adalah orang yang mempunyai keahlian dalam menggali hukum-hukum yang permasalahannya tidak ditemukan dalam nash/teks yang jelas di dalamnya.


Beberapa Syarat untuk Menjadi Seorang Mujtahid


Seorang mujtahid itu hafal ayat-ayat ahkam, hadits-hadits ahkam serta mengetahui sanad-sanad dan keadaan perawi hadits yang dihafal, mengetahui nasikh dan mansukh, ‘am dan khash, muthlaq dan muqayyad serta benar-benar menguasai bahasa Arab dan pemaknaan-pemaknaan setiap nash sesuai dengan bahasa al-Qur’an, mengetahui apa yang telah disepakati dan diperselisihkan oleh para ahli ijtihad, sebab apabila tidak mengetahui hal semacam ini maka memungkinkan baginya untuk menyalahi ijma’/kesepakatan para ulama sebelumnya.

Selain syarat-syarat di atas, masih ada satu syarat penting yang juga harus dipenuhi dalam berijtihad yaitu kekuatan pemahaman dan nalar. Kemudian juga disyaratkan memiliki sifat ‘adalah; yaitu tidak pernah melakukan dosa-dosa besar dan tidak membiasakan diri melakukan dosa-dosa kecil yang jika diperkirakan secara hitungan jumlah dosa kecilnya tersebut melebihi jumlah perbuatan baiknya.

Sedangkan Muqallid adalah orang yang derajatnya belum sampai ke tahap mujtahid yang mereka itu mengikuti pendapat para mujtahid.

Dalil Tentang Dibolehkannya Ijtihad


نَضر اللهُ امْرأً سَمِعَ مَقَالَتِيْ فَوَعَاهَا فأدّاهَا كَمَا سَمِعَهَا ، فَرُبَّ حَامِل مُبَلّغ لا فِقْهَ عِنْدَهُ (رواه الترمذي وابن حبان)

“Allah memberikan kemuliaan kepada seseorang yang mendengar perkataanku, kemudian ia menjaganya dan menyampaikannya sebagaimana ia mendengarnya, betapa banyak orang yang menyampaikan tapi tidak memiliki pemahaman”. (HR. at-Tirmidzi dan Ibnu Hibban)

Bukti terdapat pada redaksi: “Fa Rubba Muballigh La Fiqha ‘Indahu”, artinya; “Betapa banyak orang yang menyampaikan tapi tidak memiliki pemahaman”. Dalam riwayat lain: “Fa Rubba Muballagh Aw’a Min Sami’”, artinya; “Betapa banyak orang yang mendengar (disampaikan kepadanya hadits) lebih mengerti dari yang menyampaikan”.

Potongan redaksi hadits tersebut memberikan pemahaman kepada kita bahwa sebagian orang yang mendengar hadits langsung dari Rasulullah ada yang hanya meriwayatkan saja, sedangkan pemahamannya terhadap isi kandungan hadits tersebut minim dibanding pemahaman orang yang mendengar darinya. Orang yang kedua ini dengan kekuatan nalar dan pemahaman yang dimiliknya mampu untuk menggali dan mengeluarkan hukum-hukum dan masalah-masalah yang terkandung dalam hadits tersebut.

Tidak Setiap Orang Boleh Berijtihad, Ini alasannya !

Dari sini dapat diketahui bahwa ada sebagian sahabat Nabi yang pemahamannya kurang dari para murid dan orang yang mendengar hadits darinya. Dalam redaksi lain hadits ini: “Fa Rubba Hamil Fiqh Ila Man Huwa Afqah Minhu”, artinya;  “Betapa banyak orang yang membawa fiqh kepada orang yang lebih paham darinya”. Dua riwayat ini diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dan Ibnu Hibban. Mujtahid dengan pengertian inilah yang dimaksud oleh hadits Nabi: 

إذَا اجْـتَهَدَ الْحَاكِمُ فأصَابَ فَلَهُ أجْرَانِ وَإذَا اجْـتَهَدَ فأخْطَأَ فَلَهُ أجْرٌ  (رواه البخاري)

“Apabila seorang Penguasa berijtihad dan benar maka ia mendapatkan dua pahala dan bila salah maka ia mendapatkan satu pahala”. (HR. al Bukhari)

Dalam redaksi hadits ini disebutkan Penguasa secara khusus karena posisi tersebut lebih membutuhkan ijtihad daripada yang lainnya. Disamping itu, di kalangan ulama salaf juga terdapat para mujtahid yang merangkap sebagai penguasa, seperti; Abu Bakr, ‘Umar, ‘Utsman, ‘Ali, al Hasan ibn ‘Ali, ‘Umar ibn ‘Abdul ‘Aziz, Syuraih al Qadli dan lainnya.

Para ulama hadits yang menulis karya-karya dalam Mushthalah al-Hadits menyebutkan bahwa ahli fatwa dari kalangan sahabat hanya sekitar enam orang sahabat menurut suatu pendapat. Beberapa ulama lain juga berpendapat bahwa ada sekitar dua ratusan sahabat yang mencapai tingkatan Mujtahid dan ini pendapat yang lebih sahih.

Jika keadaan para sahabat saja seperti itu, lalu bagaimana mungkin setiap muslim yang bisa baca al-Qur’an dan menelaah beberapa kitab berani berkata: “para mujtahid hanyalah manusia dan kita pun manusia, dan tidak sepantasnya kita taqlid kepada mereka”. Padahal telah terbukti dengan adanya data yang akurat bahwa mayoritas ulama salaf yang bukan seorang mujtahid, mereka mengikuti atau taqlid kepada ahli ijtihad yang ada di kalangan mereka.

Diriwayatkan dalam shahih al-Bukhari bahwa seorang pekerja sewaan telah berbuat zina dengan isteri majikannya. Lalu ayah pekerja itu bertanya tentang hukuman yang pantas diterima anaknya, ada yang berkata: “Hukuman bagi anakmu adalah membayar 100 ekor kambing dan memerdekakan seorang budak perempuan”. Kemudian ayah sipekerja tersebut bertanya pula pada ahli ilmu, mereka menjawab: “Hukuman bagi anakmu adalah dicambuk 100 kali dan diasingkan selama 1 tahun”.

Pada akhirnya ia dan suami perempuan tadi menjumpai Rasulullah dan berkata: “Wahai Rasulullah! anakkku ini bekerja pada orang ini, lalu ia berzina dengan isterinya. Ada yang bilang hukuman atas anakku adalah dirajam, lalu aku tebus hukuman rajam tersebut dengan membayar 100 ekor kambing dan memerdekakan seorang budak perempuan. Lalu aku bertanya kepada para ahli ilmu dan mereka menjawab: Hukuman anakmu adalah dicambuk 100 kali dan diasingkan satu tahun”. Rasulullah bersabda: “Aku pasti akan memberi keputusan hukum terhadap kalian berdua dengan Kitabullah, budak perempuan dan kambing itu dikembalikan kepadamu sedangkan hukuman bagi anakmu adalah dicambuk 100 kali dan diasingkan (dari kampungnya sejauh jarak Qashar, kira-kira 78 Km) selama setahun”.

Orang tersebut meskipun dia juga seorang sahabat, dia tidak sungkan untuk bertanya kepada sahabat-sahabat lainnya dan jawaban mereka tidak tepat lalu ia pun bertanya kepada para ulama hingga kemudian Rasul memberikan fatwa yang sesuai dengan apa yang dikatakan oleh mereka (ulama).

Dalam kejadian ini Rasulullah memberikan pelajaran berharga bagi kita bahwa sekalipun mendengar hadits langsung dari Nabi namun tidak semua sahabat memahaminya, artinya tidak semua sahabat mempunyai kemampuan dalam mengambil hukum dari hadits Nabi. Mereka hanya berperan meriwayatkan hadits kepada lainnya sekalipun mereka memahami betul bahasa Arab yang fasih.

Dengan demikian sangatlah aneh jika ada orang yang berani mengatakan: “Mereka adalah manusia dan kita juga manusia”. Mereka yang dimaksud adalah para ulama mujtahid seperti imam yang empat; Imam Abu Hanifah, Malik, Syafi'i dan Ahmad ibn Hanbal).

Senada dengan hadits di atas, ada sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud tentang seorang lelaki yang kepalanya terluka. Pada suatu malam yang dingin lelaki itupun junub, setelah bertanya kepada orang-orang yang bersamanya tentang hukumnya, mereka menjawab: “Mandilah!”. Kemudian ia mandi dan meninggal dunia karena kedinginan.

Ketika Rasulullah diberitahu tentang masalah ini, beliau bersabda: “Mereka telah membunuhnya, semoga Allah membalas perbuatan mereka, Tidakkah mereka bertanya kalau memang tidak tahu, karena obat ketidaktahuan adalah bertanya!”.

Dengan begitu, obat kebodohan adalah bertanya kepada ahli ilmu. Lalu Rasulullah berkata: “Sesungguhnya cukup bagi orang tersebut bertayammum, dan membalut lukanya dengan kain lalu mengusap kain tersebut dan membasuh (mandi) sisa badannya". (HR. Abu Dawud dan lainnya).

Dari kasus ini dapat difahami, seandainya ijtihad diperbolehkan bagi semua orang Islam, tentu Rasulullah tidak akan mencela mereka yang memberi fatwa kepada orang junub, padahal mereka tidaklah ahli untuk berfatwa.

Diantara pekerjaan khusus lain seorang mujtahid adalah melakukan Qiyas, yaitu mengambil hukum bagi perkara yang tidak ada nashnya dengan sesuatu yang memiliki nash karena terdapat kesamaan dan keserupaan di antara keduanya.

Oleh karena itu, berhati-hati dan waspadalah kepada mereka yang mengultimatum pengikutnya untuk berijtihad. Padahal mereka sendiri, begitu juga para pengikutnya sangatlah jauh dari tingkatan mujtahid.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Tidak Setiap Orang Boleh Berijtihad, Ini Alasannya !"

Post a Comment

Contact Form

Name

Email *

Message *