Hukum Qunut Shubuh dalam Mazhab Syafi'i

Jalan-lurus.com - Selamat malam teman-teman semua!. Malam ini admin akan menuliskan dalil tentang disunnahkannya membaca do'a qunut pada shalat shubuh. Artikel ini ditulis untuk menolak perkataan sebagian orang yang mengatakan qunut adalah bid'ah yang tidak punya dasar sama sekali.

Hukum Qunut Shubuh dalam Mazhab Syafi'i

Ketahuilah! bahwa Membaca do'a Qunut pada raka'at kedua shalat shubuh hukumnya sunnah dalam mazhab Imam asy-Sayafi'i, baik disaat terjadi musibah atau tidak. Perihal qunut shubuh telah dituliskan oleh Al-Imam an-Nawawi dalam kitab Minhaj ath-Thalibin sebagai berikut:


وَيُسَنُّ القُنُوْتُ فِيْ اعْتِدَالِ ثَانِيَةِ الصُّبْحِ وَهُوَ اللّهُمَّ اهْدِنِيْ فِيْمَنْ هَدَيْتَ إِلَى ءَاخِرِهِ، وَالإِمَامُ بِلَفْظِ الْجَمْعِ، وَالصَّحِيْحُ سَنُّ الصَّلاَةِ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ  فِيْ ءاَخِرِهِ وَرَفْعُ يَدَيْهِ وَلاَ يَمْسَحُ وَجْهَهُ

“Disunnahkan membaca doa Qunut pada I’tidal raka'at kedua shalat Subuh, yaitu membaca “Allahummahdini Fiman Hadaita…, hingga selesai”. Dan imam disunnahkan membaca Qunut dengan lafazh jama’. Menurut pendapat yang Shahih disunnahkan membaca shalawat atas Nabi di akhir Qunut. Juga disunnahkan mengangkat kedua tangannya dan tidak perlu mengusap mukanya”[1].

Mayoritas ulama Salaf dan para ulama yang datang sesudah mereka juga berpendapat seperti itu. Hal ini dinyatakan oleh al-Imam an-Nawawi dalam kitab Syarh al-Muhadzdzab. Ini juga merupakan pendapat mayoritas kalangan sahabat seperti Abu Bakar ash-shiddiq, ‘Umar ibn al-Khaththab, ‘Utsmanibn ‘Affan, ‘Ali ibn Abi Thalib, ‘Abdullah ibn ‘Abbas, al-Bara’ ibn ‘Azib dan lainnya.

Sahabat Anas ibn Malik mengatakan:

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَََّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَنَتَ شَهْرًا  يَدْعُوْ عَلَيْهِمْ ثُمَّ تَرَكَ، فَأَمَّا فِيْ الصُّبْحِ فَلَمْ يَزَلْ يَقْنُتُ حَتَّى فَارَقَ الدُّنْيَا. قال الحافظ النووي: حديث صحيح رواه جماعة من الحفاظ وصححوه، وممن نص على صحتهالحافظ أبو عبد الله محمد بن علي البلخي والحاكم والبيهقي والدارقطني 
“Rasulullah membaca Qunut, mendoakan mereka agar celaka (atas dua kabilah; yaitu Ri’l dan Dzakwan) selama sebulan, setelah itu kemudian meninggalkannya. Sedangkan pada shalat Subuh Rasulullah tetap membaca doa Qunut hingga beliau meninggalkan dunia ini”. (Hadits Shahih diriwayatkan oleh banyak ahli hadits dan dishahihkan oleh mereka pula, seperti al-Hafizh al-Balkhi,al-Hakim, al-Baihaqi, ad-Daraquthni dan lainnya).[2]

Jika ada sebagian orang yang mengatakan bahwa Qunut Subuh adalah bid’ah, maka berarti mereka mengatakan para sahabat dan para ulama mujtahid yang telah disebutkan di atas sebagai ahli bid’ah. Pendapat-pendapat yang meresahkan seperti itu muncul dari mulut orang-orang yang tidak faham ilmu agama dan orang-orang yang keras kepala yang tidak mau menerima kebenaran.

Terimakasih telah membaca artikel ini, semoga bermanfaat!


***
[1]  Minhaj ath-Thalibin, h. 21
[2] Lihat juga al Adzkaar,hal. 59-62.
***

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Hukum Qunut Shubuh dalam Mazhab Syafi'i"

Post a Comment

Contact Form

Name

Email *

Message *