Para Ulama Mujtahid Berbeda Pendapat dalam Furu’ dan Sepakat dalam Ushul (Tauhid)

Jalan-lurus.com - Para ulama yang memenuhi syarat-syarat berijtihad, mereka akan berijtihad dalam masalah-masalah furu’, bukan dalam prinsip-prinsip keyakinan (ushul al-‘aqidah) seperti tentang ma’rifatullah (mengetahui sifat-sifat Allah)

Kemudian tidaklah diperbolehkan adanya perbedaan pendapat (ikhtilaf) dalam masalah-masalah yang telah dibicarakan oleh nash-nash yang sharih (Manshush ‘alayhi), seperti tentang kewajiban shalat lima waktu, keharaman zina dan liwath.

Para Ulama  Mujtahid Berbeda Pendapat dalam Furu’ dan  Sepakat dalam Ushul (Tauhid)

Sedangkan perbedaan dalam masalah-masalah yang tidak manshush alayhi dan tidak majmu’ alayhi, maka ijtihad dan ikhtilaf dalam hal ini diperbolehkan.

Dalam bidang furu’, Para ulama mujtahid tidak pernah satupun dari mereka yang mengklaim bahwa dirinya saja yang benar dan selainnya sesat. Mereka juga tidak pernah mengatakan kepada mujtahid lain yang berbeda pendapat dengan mereka; "Anda sesat dan haram mengikuti ijtihad anda".

Umar bin al-Khaththab tidak pernah mengatakan hal semacam itu kepada Ali bin Abi Thalib ketika mereka berbeda pendapat, Begitu juga sebaliknya, Ali tidak pernah mengatakan hal seperti itu kepada Umar.

Di dalam  al-Hawi fi Fatawi al-Ghumari, 1/108-110, al-Ghumari menyebutkan riwayat al-Hakim di dalam al-Mustadrak bahwa Umar ketika dalam kondisi terluka berkata kepada para sahabat:
إِنِّيْ كُنْتُ رَأَيْتُ فِى الْجَدِّ رَأْيًا، فَإِنْ رَأَيْتُمُوْهُ أَنْ تَتَّبِعُوْهُ فَاتَّبِعُوْهُ
“Saya sudah punya pendapat tentang hak waris kakek, jika kalian melihat itu layak diikuti, maka ikutilah.”

Lalu Utsman menjawab:

إِنْ نَتَّبِعْ رَأْيَكَ فَإِنَّهُ رُشْدٌ، وَإِنْ نَتَّبِعْ رَأْيَ الشَّيْخِ قَبْلَكَ فَلَنِعْمَ ذُوْ الرَّأْيِ كَانَ
“Jika kami mengikuti pendapat anda, maka itu adalah petunjuk dan kebenaran, dan jika kami mengikuti Syeikh (Abu Bakar) sebelum anda, maka beliau adalah sebaik-baik orang yang berijtihad.”

Demikian pula para ulama ahli ijtihad yang lain seperti Imam Abu Hanifah, Malik, Syafii, Ahmad bin Hanbal, Ibnu al-Mundzir, Ibnu Jarir ath-Thabari dan lainnya. PARA ULAMA AHLI IJTIHAD JUGA TIDAK PERNAH MELARANG ORANG UNTUK MENGIKUTI MADZHAB ORANG LAIN SELAMA YANG DIIKUTI MEMANG SEORANG AHLI IJTIHAD.

Mereka juga tidak pernah berambisi mengajak seluruh ummat Islam untuk mengikuti pendapatnya. Mereka tahu betul bahwa perbedaan dalam masalah-masalah furu’ telah terjadi sejak masa para sahabat Nabi dan mereka tidak pernah saling menyesatkan atau melarang orang untuk mengikuti salah satu di antara mereka.

Dalam berbeda pendapat, mereka berpegang pada sebuah kaedah yang disepakati:

لاَ يُنْكَرُ الْمُخْتَلَفُ فِيْهِ وَإِنَّمَا يُنْكَرُ الْمُجْمَعُ عَلَيْهِ
“Tidak diingkari orang yang mengikuti salah satu pendapat para mujtahid dalam masalah yang memang diperselisihkan hukumnya (mukhtalaf fih) di kalangan mereka, melainkan yang diingkari adalah orang yang menyalahi para ulama mujtahid dalam masalah yang mereka sepakati hukumnya (mujma’ alayhi)".

Maksud dari kaedah ini bahwa jika para ulama mujtahid berbeda pendapat tentang suatu permasalahan, ada yang mengatakan wajib, sunnah atau makruh, haram, atau boleh dan tidak boleh, maka tidak dilarang seseorang untuk mengikuti salah satu pendapat mereka.

Tetapi jika hukum suatu permasalahan telah mereka sepakati, mereka memiliki pendapat yang sama dan satu tentang masalah tersebut, maka tidak diperbolehkan orang menyalahi kesepakatan mereka tersebut dan mengikuti pendapat lain atau memunculkan pendapat pribadi yang berbeda.

Jadi dalam masalah-masalah furu’, diperbolehkan adanya perbedaan. Sedangkan dalam masalah-masalah ushul (Tauhid), mereka sepakat bahwa ALLAH ADA TANPA TEMPAT DAN ARAH. Maka orang yang menyalahi masalah ushul ini, dikatakan sesat dan kafir.

Oleh karena itu, al-Imam ath-Thahawi menukil ijma’ para ulama salaf dengan menegaskan (Abdullah al-Harari, Syarah al-‘Aqidah ath-Thahawiyah, 186-187):

تعالى (يعنى الله) عن الحدود والغايات والأركان والأعضاء والأدوات ل تحويه الجهات الست كسائر المبتدعات

Al-Imam Abu Manshur al-Baghdadi berkata (al-Farq bayna al-Firaq, 333):

وأجمعوا – اي أهل السنة والجماعة - على أنه لا يحويه مكان ولا يجرى عليه زمان

Al-Imam al-Haramain Abdul Malik al-Juwayni mengatakan (Abdul Malik al-Juwayni, al-Irsyad ila Qawa-thi al-Adillah, 21):

ومذهب اهل الحق قاطبة أن الله سبحانه وتعالى يتعالى عن التحيز والتخصص بالجهات

Al-Imam ath-Thahawi juga mengatakan (Abdullah al-Harari, Syarah al-Aqidah ath-Thahawiyyah, 187):

ومن وصف الله بمعنى من معانى البشر فقد كفر

Al-Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqalani menegaskan (Fathu al-Bari, 6/136):

فمعتقد سلف الأئمة وعلماء السنة من الخلف أن الله منزه عن الحركة والتحول والحلول، ليس كمثله شيء

Semoga Allah senantiasa memberikan hidayah, taufiq dan inayah kepada kita, sehingga kita menjadi hamba yang diridhai dan menjadi ummat Nabi Muhammad yang dibanggakan, aamiin.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Para Ulama Mujtahid Berbeda Pendapat dalam Furu’ dan Sepakat dalam Ushul (Tauhid)"

Post a Comment

Contact Form

Name

Email *

Message *