Pentingnya Ilmu Tauhid Bagi Setiap Manusia

Jalan-lurus.com - Sesungguhnya ilmu yang mengkaji tentang keimanan kepada Allah dengan mengetahui sifat-sifat-Nya merupakan ilmu yang paling mulia, paling tinggi kedudukannya, paling wajib diketahui serta hal utama yang mesti diketahui. Ilmu ini dikenal dengan ilmu ushul, ilmu tauhid, ilmu kalam dan ilmu aqidah. Rasulullah menyatakan secara tegas bahwa beliau begitu memperhatikan ilmu ini seraya bersabda:

أَنَا أَعْلَمُكُمْ بِاللّهِ وَأَخْشَاكُمْ لَهُ
“Aku adalah orang yang paling mengetahui tentang Allah dari pada kalian dan aku adalah orang yang paling takut kepada Allah dari pada kalian.” (HR. al-Bukhari)

Pentingnya Ilmu Tauhid Bagi Setiap Manusia

Oleh karena itu, ilmu ini merupakan ilmu yang paling urgen untuk diperoleh dan ilmu yang harus diprioritaskan dan diagungkan.

Allah berfirman:

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لا إِلَهَ إِلا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ
“Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan.” (QS. Muhammad: 19)

Pada ayat di atas disebutkan bahwa perintah untuk mengetahui tauhid lebih didahulukan dari perintah istighfar, Sebab ilmu tauhid berkaitan dengan ilmu ushul, sementara istighfar berkaitan dengan ilmu furu’ (ilmu tasawwuf). jadi, mempelajari ilmu tauhid mesti didahulukan dari ilmu fiqih, tasawwuf, hadits dan disiplin ilmu lainnya.

Rasulullah menyatakan bahwa ibadah yang paling utama secara mutlak adalah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Rasulullah bersabda:

أَفْضَلُ الْأَعْمَالِ إِيْمَانٌ بِاللّهِ وَرَسُوْلِهِ
“Perbuatan yang paling utama adalah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya.” (HR. al-Bukhari)

Ilmu tauhid juga merupakan syarat sah diterimanya suatu ibadah, baik ibadah shalat, puasa, zakat, haji, shadaqah, berdzikir maupun ibadah-ibadah lain. Jadi, orang yang tidak mengenal Allah melalui sifat-sifat-Nya, dan orang-orang yang meyakini Allah dengan keyakinan yang menyimpang, seperti meyakini bahwa Allah ada di langit, maka ibadahnya tidak akan diterima.

Al-Imam al-Ghazali berkata:

لَا تَصِحُّ الْعِبَادَةُ إِلَّا بَعْدَ مَعْرِفَةِ الْمَعْبُوْدِ
“Tidak sah ibadah seseorang kecuali setelah dia mengetahui Tuhan yang disembah.”

Pentingnya Ilmu Tauhid Bagi Setiap Manusia

Di antara poin pertama dari ilmu tauhid adalah menyakini bahwa Allah ada (wujud). Keberadaan Allah tidak sama dengan keberadaan makhluk. Bukti bahwa Allah ada adalah adanya alam ini dan seluruh isinya, Pertukaran siang dan malam yang teratur, perjalanan matahari dan bulan yang silih berganti, penciptaan manusia yang sempurna, berfungsinya anggota tubuh dengan baik, butuhnya manusia akan udara serta air dan sebagainya.  Semua peristiwa ini tidak mungkin terjadi dengan sendirinya. Tentulah ada yang menciptakan dan mengaturnya, yaitu Allah ta’ala. Allah berfirman:

أَوَلَمْ يَتَفَكَّرُوْا فِي أَنْفُسِهِمْ مَا خَلَقَ اللّٰهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا إِلَّا بِالْحَقِّ وَأَجَلٍ مُسَمًّى وَإِنَّ كَثِيْرًا مِنَ النَّاسِ بِلِقَاءِ رَبِّهِمْ لَكَافِرُوْنَ
“Dan mengapa mereka tidak memikirkan tentang (kejadian) diri mereka? Allah tidak menjadikan langit dan bumi dan apa yang ada diantara keduanya melainkan dengan (tujuan) yang benar dan waktu yang ditentukan. Dan Sesungguhnya kebanyakan di antara manusia benar-benar ingkar dengan melihat kepada Tuhannya (di akhirat).” (QS. Ar-Rum:8)

Allah ada sebelum terciptanya alam, Allah ada sebelum manusia, malaikat, dan jin diciptakan, Allah ada sebelum bumi diciptakan, Allah ada sebelum langit dan arsy diciptakan. Jadi, Allahlah yang menciptakan semua makhluk tersebut. Allah menciptakan semua itu untuk memperlihatkan kekuasaan-Nya, bukan karena Allah butuh kepada makhluk. Karena itu, wajib diyakini bahwa Allah ada tanpa tempat dan tanpa arah. Allah tidak di langit, Allah tidak di arsy dan Allah tidak di mana-mana. Allah ada tanpa tempat, karena tempat adalah makhluk yang diciptakan oleh-Nya.

Allah berfirman:

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ
“Dia (Allah) tidak menyerupai sesuatupun dari makhluk-Nya (baik dari satu segi maupun semua segi), dan tidak ada sesuatupun yang menyerupai-Nya.” (QS. Asy-Syura: 11)

Ayat di atas adalah ayat yang paling jelas (sharih) di dalam al-Qur’an yang menjelaskan bahwa Allah tidak menyerupai makhluk-Nya.

Al-Imam Abu Hanifah menyatakan:

أَنَّى يُشْبِهُ الْخَالِقُ مَخْلُوْقَهُ
“Mustahil Allah menyerupai makhluk-Nya.”

Mustahil Allah menyerupai sifat-sifat makhluk. Di antara sifat-sifat makhluk adalah bergerak, diam, berubah, bersemayam, berada di tempat dan arah, duduk, naik, turun dan sebagainya.

Rasulullah bersabda:

كَانَ اللّٰهُ وَلَمْ يَكُنْ شَيْءٌ غَيْرُه
“Allah ada pada azal (keberadaan tanpa permulaan) dan belum ada sesuatupun selain-Nya.” (HR al-Bukhari, al-Baihaqi dan Ibn al-Jarud).

Makna hadits ini bahwa Allah ada pada azal (keberadaan tanpa permulaan), tidak ada sesuatu apapun selain-Nya. Pada azal belum ada angin, cahaya, kegelapan, ‘arsy, langit, manusia, jin, malaikat, waktu, tempat dan arah. Maka berarti Allah ada sebelum tempat dan arah tercipta. Ia tidak butuh kepada keduanya dan Ia juga tidak berubah dari semula, yakni tetap ada tanpa tempat dan arah, karena berubah adalah ciri dari makhluk.

Sayyidina Ali berkata:

إِنَّ الَّذِيْ أَيَّنَ اْلأَيْنَ لاَ يُقَالُ لَهُ أَيْنَ وَإنَّ الَّذِيْ كَيَّفَ اْلكَيْفَ لاَ يُقَالُ لَهُ كَيْفَ 
Sesungguhnya yang menciptakan tempat tidak boleh dikatakan bagi-Nya dimana (pertanyaan tentang tempat) dan yang menciptakan sifat-sifat makhluk tidak boleh dikatakan bagi-Nya bagaimana (diriwayatkan oleh Abu al-Muzhaffar al-Asfarayini dalam kitabnya at-Tabshir fi ad-Din, hlm. 98)

Imam ath-Thahawi berkata::

وَمَنْ وصَفَ اللهُ بِمَعْنَى مِنْ مَعَانِى اْلبَشَرِ فَقدْ كَفَرَ
Dan barang siapa yang mensifati Allah dengan salah satu sifat manusia, maka ia telah kafir.

Diantara sifat manusia adalah duduk, bertempat, bergerak, diam, berada pada suatu arah atau tempat, berbicara dengan huruf, suara dan bahasa.

Imam Ahmad ar-Rifa'i menyatakan dalam kitabnya "al-Burhan al-Muayyad":

صُوْنُوْا عَقَائِدَكُمْ مِنَ التَّمّسُّكِ بِظَاهِرِ مَا تَشَابَهَ مِنَ اْلكِتَابِ وَالسُّنَّةِ فَإِنَّ ذَلِكَ مِنْ أُصُوْلِ اْلكُفْرِ
Jagalah aqidah kalian dari berpegangan kepada zahir ayat al-Quran dan hadits Nabi yang mutasyabihat sebab hal ini merupakan salah satu pangkal kekufuran.

Contoh ayat mutasyabihat adalah firman Allah surat Thaha:5 (الرَّحْمَنُ عَلَى اْلعَرْشِ اسْتَوَى) ayat ini tidak boleh difahami dengan makna zahirnya. karena kata istawa mempunyai banyak arti, diantaranya duduk, menetap, lurus, matang, menguasai, dan lain-lain.

Makna sesuai bagi Allah adalah menguasai (al-Qahhar) dan Allah menamakan Dzat-Nya dengan al-Qahhar, sebagaimana dinyatakan di dalam surat Yusuf:39 (اللهُ اْلوَاحِدُ اْلقَهَّارُ). Oleh karena itu, kaum muslimin memberikan nama kepada anak-anak mereka dengan Abdul Qahhar. Tidak seorangpun yang menamai anak-anak mereka dengan Abdul Jalis maupun Abdul Qa'id yang bermakna hamba dari dzat yang duduk.

Sayyidina Ali berkata:

إِنَّ اللهَ خَلَقَ اْلعَرْشَ إِظْهَارًا لِقُدْرَتِهِ وَلَمْ يَتَّخِذُهُ مَكَانًا لِذَاتِهِ
Sesungguhnya Allah menciptakan arsy untuk menampakkan kekuasaan-Nya dan Dia tidak menjadikannya sebagai tempat bagi Dzat-Nya (diriwayatkan oleh Abu Manshur al-baghdadi di dalam kitab al-Farq bayna al-Firaq)

Begitu juga Imam Malik berkata:

الرَّحْمَنُ عَلَى اْلعَرْشِ اسْتَوَى كَمَا وَصَفَ نَفْسَهُ وَلاَ يُقَالُ كَيْفَ، وَكَيْفَ عَنْهُ مَرْفُوْعٌ
Allah yang maha Rahman Istawa terhadap arsy sebagaimana Dia telah mensifati Dzatnya, tidak boleh dikatakan bagi-Nya sifat-sifat makhluk dan sifat-sifat makhluk bagi-Nya mustahil (diriwayatkan oleh albaihaqi dalam kitab al-Asma' wa ash-Shifat).

Imam Ahmad ar-Rifa'i berkata:

غَايَةُ اْلمَعْرِفَةِ بِاللهِ اْلإِيْقَانُ بِوُجُوْدِهِ تَعَالَى بِلَا كَيْفِ وَلا مَكَانِ
Batas akhir pengetahuan seorang hamba tentang Allah ta'ala ada tanpa bagaimana (sifat-sifat makhluk) dan ada tanpa tempat.

Inilah keyakinan Rasulullah, para sahabat, para Imam mujtahid dan mayoritas kaum muslimin. Ulama tasawwuf yang telah mencapai derajat tinggi, keyakinannya adalah Allah ada tanpa tempat dan tanpa arah. Tidak karena sudah mencapai derajat yang tinggi, mereka serta merta dapat membayangkan Allah, atau mengetahui hakekat Allah.

Imam Ahmad Bin Hanbal dan Imam Tsaubun Ibn Ibrahim Dzun Nun al-Mishri berkata:

مَهْمَا تَصَوَّرْتَ بِبَالِكَ فَاللهُ بِخِلَاف ذَلِكَ
Apapun yan terlintas di benakmu tentang Allah, maka Allah tidak seperti itu.

Allah tidak menyerupai makhluk-Nya dan tidak ada sesuatupun yang dapat menyerupai-Nya. Allah bukan benda dan bukan sifat benda. Oleh karena itu Allah tidak dapat dibayangkan.

Abu Bakar ash-Shiddiq berkata:

اْلعَجْزُ عَنْ دَرْكِ اْلإدْرَاكِ إِدْرَاكُ وْاْلبَحْثُ عَنْ ذَاتِهِ كُفْرٌ وَإشْرَاكٌ
Pengetahuan bahwa pemahaman seseoarang tidak mampu untuk sampai mengetahui hakikat Allah adalah keimanan, sedangkan yang mencari tahu tentang hakikat Allah, yakni membayangkan-Nya adalah kekufuran dan syirik.

Seeorang yang meyakini bahwa Allah ada, yang ada-Nya tidak sama dengan adanya makhluk, maka hal ini adalah keimanan yang benar. Sedangkan orang yang mencari tahu hakikat Allah sehingga membayangkan-Nya seperti makhluk, maka hal ini akan menyebabkan dia menjadi keluar dari agama islam.

Inilah aqidah islam yang diajarkan oleh semua para Nabi, dari Nabi Adam sampai Nabi terakhir, Nabi Muhammad. Semua Nabi keimanannya sama, Allah ada tanpa tempat dan arah.

Semoga Allah senantiasa mengaruniakan hidayah, taufiq, dan inayah-Nya kepada kita semua sehingga kita dapat brpegang teguh pada ajaran ahlussunnah waljama'ah dan semoga jalan kita dimudahkan dalam melaksanakan ajaran Islam. aaminn

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Pentingnya Ilmu Tauhid Bagi Setiap Manusia"

Post a Comment

Contact Form

Name

Email *

Message *